Minggu, 09 April 2017

“Karena, Dia....”

One-Shot

Suara derap langkah kaki yang memburu menghuni kesunyian di malam hari. Melewati jalanan yang sepi dan gelap. Mereka terhenti di bawah lampu jalan yang menyala. “Hufft..ehhufft..ehHuuftt” Suara tarikan napas yang bersahutan memekakan telinga. Mereguk oksigen seakan takut kehabisan pasokan udara. “Gue pikir, huuft... Mereka... Haah.. Udah pergi.” Ucap salah seorang yang melihat keadaan sekitar. Ia memastikan menengok ke arah belakang mereka, matanya bergerak mengamati keadaaan sekitar. “Gue rasa juga begitu.” Ia menyandarkan tubuhnya pada tiang lampu jalan, tubuhnya melorot akibat kelelahan yang menderanya. 
 
“Ayo, jangan lama-lama di sini. Ntar mereka nemuin kita lagi. Lo gak mau kan mereka nangkap kita?” Ujar salah seorang yang masih berdiri dan terlihat gelisah, matanya bergerak kesana-kemari memastikan bahwa tempatnya beristirahat masih aman. “Iya, ayo. Kita cabut!” Ia berdiri dengan rasa lelah yang belum hilang. “Eh, kita naik apaan nih? Motor kita kan, kita tinggal di tempat yang tadi.” Seakan tersadar dari ingatannya. Ya, mereka sedari tadi hanya berlari. Membawa badan dan isinya yang utuh pun sudah sangat cukup. “Kendaraan umum kan banyak, pe’a!” Sambil menoyor kepala temannya yang menurutnya agak lemot ini. “Oh iya, lo bener. Hehee... Yaudah caw. Tapi tunggu!” Bersiap pergi namun gadis itu menahan sahabatnya. “Apalagi sih, Dry? Buruan sebelum mereka dateng.” Sahabatnya mulai kesal dengan gadis yang dipanggilnya Dry itu.
 
“Emang lo bawa duit apa, Ndre? Seinget gue, dompet sama tas lo, lo tinggal di markas kita.” Gadis itu menatap laki-laki yang sedang mencerna perkataannya. Suara tepukan di jidat menandakan bahwa ia melupakan sesuatu. “Oh iya, bener. Terus kita harus gim-” Laki-laki itu seolah tersadar dari kepanikan yang tidak seharusnya ia lakukan. Laki-laki itu kemudian melirik tajam ke arah gadis yang sedari tadi sedang memperhatikannya. “Kenapa sekarang gue jadi lemot kayak lo, ya?! Udah, sekarang kita pergi aja dari sini, soal itu nanti kita pikirin. Kalaupun kita naik taksi, kita tinggal bayar taksi itu setelah kita sampai di rumah. Dasar odong lu! Lo boleh aja pinter bela diri, tapi otak lo kosong tau gak!” Laki-laki itu menyeret sahabatnya dengan langkah lebar sambil menggerutu kepada gadis yang ia seret itu. Sahabatnya sangat mengesalkan jika sudah lemot dalam mencerna perkataan seseorang ketika sedang panik ataupun kelelahan. Ya, mungkin Dry kelelahan, jadi ia memakluminya.
 
Diam-diam Dryani tersenyum melihat punggung kokoh orang yang menariknya. Dulu orang ini, Andre, pernah mencuri seluruh pusat perhatiannya. Namun, ia harus mundur dan menghancurkan perasaan itu sebelum perasaan itu tumbuh mekar di hatinya. Sebab, Andre telah menemukan kebahagiannya sekarang. Yaitu, sahabatnya sendiri, Tiana. Andre adalah sahabatnya sedari kecil. Sedangkan, Tiana adalah sahabat sekampus dan sekelasnya. Dryani tersenyum kecut, itu adalah sebagian kecil masa lalunya.
 
Hal tersulit adalah ketika melihatmu mencintai orang lain dan menginginkannya berada di sisimu.
 
Gadis itu tak melepaskan senyuman dari wajah cantiknya. Ia menatap foto itu sekali lagi. Ah, melihat wajah pria ini membuatnya tak bisa bernapas. Ada sesuatu seperti aliran yang merambat pada organ dalam tubuhnya, dimulai dari pikiran, mata, bibir hingga tepat ke jantungnya. Entah apa namanya perasaan macam ini. Rasanya ia melebur dalam suatu euforia yang tak tergambarkan betapa meriahnya perasaan itu. Pria itu adalah obatnya. Ya, selepas dari perasaannya pada Andre, Dryani menemukan cinta yang baru. Mungkin, perasaannya yang dulu sebatas rasa suka semata saja. Karena, Dryani merasakan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Perasaan ini tumbuh begitu cepat sehingga ia tak sanggup bila harus kehilangan perasaan ini, terutama kehilangannya. Elfian Zafarino. Sepupu dari orang yang pernah Dryani sukai atau sahabatnya, Andre. Entahlah, apa pribahasa dari ‘Dunia itu sempit’ berlaku juga pada kisah hidupnya. Drya tak tahu. Yang jelas ia mencintai pria itu, Elfian. Mendengar namanya saja sudah membuat jantung Drya mempercepat detakannya. Oh, Cinta. Akankah cinta membuat aku dan kamu menjadi ‘kita’?
 
Ketakutan Drya akan kehilangan orang yang ia cinta, kini kembali hadir. Pasalnya pria itu akan melangsungkan pertunangannya dengan seorang gadis. Ia menatap kosong ke arah undangan yang berada dalam genggamannya. Gadis itu, gadis yang sama ketika dia merebut kasih sayang dari ibu kandungnya. Keluarga Dryani bukanlah keluarga pada umumnya. Ia hadir di tengah-tengah keluarga yang dari awal sudah tak terkehendaki. Ibunya dijodohkan dengan ayahnya oleh kedua keluarga. Ibunya menolak mentah-mentah perjodohan itu, dengan alasan bahwa ia telah mempunyai calonnya sendiri. Pernikahan itu terjadi dengan keterpaksaan, ibunya menyanggupi pernikahan itu karena tak mau kehilangan hak waris dari keluarga besarnya. 
 
Tiga tahun pernikahan orang tuanya yang menghasilkan Drya kecil yang pintar dan lucu. Selama tiga tahun ibunya jarang berada di rumah. Setahu Drya, sedari kecil yang mendidik dan mengasuhnya adalah ayahnya. Pernah, suatu ketika Drya sedang bermain dan melihat ibunya pulang ke rumah, Drya berlari ke arah ibunya dan memeluk kaki ibunya. Tetapi, respons Drya ditolak mentah-mentah oleh ibunya. Ia mendorong Drya hingga terjatuh dan memarahi Drya karena risih akan perlakuan Drya. Drya pantang untuk menangis walaupun air mata telah berada di ujung matanya, Drya bergegas menyusutnya. Karena kata ayahnya, anak yang manis dan pintar tidak pernah menangis dan jika menangis ia akan membuat ayahnya bersedih, Drya tak mau melihat ayahnya bersedih karenanya. 
 
Dengan kesabaran, kehangatan, ketekunan dan rasa cinta kepada anaknya, ayah Drya sukses merawat Drya dari kecil hingga saat ini. Namun, kembali Drya harus menelan kenyataan itu bulat-bulat. Bahwa 2 tahun yang lalu, ayahnya di vonis menderita kanker otak stadium akhir yang menyebabkannya harus dirawat. Drya kecewa, kesal, marah, sedih mengetahui ayahnya menyembunyikan penyakit yang separah ini darinya. Tak lama setelah di vonis, ayah Drya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tak ada lagi pelukan hangat dari seorang ayah sekaligus ibu bagi Drya. Tak ada acara bermanja-manja selepas beraktivitas dengan ayah tercinta. Semua itu sudah menjadi kenangan. Sebagian hatinya telah dibawa pergi oleh ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, Drya tinggal sendiri di rumahnya, karena ia tak mau meninggalkan rumahnya yang penuh kenangan bersama ayahnya. Sesekali kakek dan neneknya berkunjung untuk menjenguknya. Kabar ayahnya meninggal diterima dengan sangat baik oleh ibu Drya, buktinya ia menikah lagi dengan kekasihnya dan telah dikarunia seorang putri yang cantik.
 
Ibunya sangat menyayangi putri kecilnya. Ya, adiknya hanya selisih 3 tahun dengannya. Dan gadis kecil yang manis itu yang sebentar lagi akan bertunangan dengan pria yang dicintainya, Elfian Zafarino. Sakit memang, bahkan sangat. Ketika orang yang kau cintai harus pergi selamanya dan pergi bersama orang lain. Tapi, ia kembali teringat kata-kata ayahnya ‘Sekeras apapun rintangan yang akan kamu lalui, jangan pernah mundur. Berjuang terus, walaupun kamu harus mengorbankan sesuatu yang berharga. Karena, Tuhan tak akan tinggal diam.’
 
Benar, ia harus merelakannya. Jika itu yang terbaik untuknya dan juga untuk dia dan mereka, ibu dan adiknya. Walaupun Drya tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Drya tak pantas membenci ibunya. Malah ia tak ingin ibunya bersedih karena anak tercintanya, adiknya, kehilangan cintanya seperti apa yang pernah Drya rasakan. Mereka harus bahagia, Drya tak boleh egois, Drya pasti kuat. Kata-kata itu yang menjadikan mantra untuk Drya melanjutkan hidupnya.
 
Terkadang hidup memang tak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Tetapi, percayalah jika kau mengikhlaskan, bersabar dan tetap tegar dalam melalui semua rintangan itu. Tuhan akan memberikanmu hadiah jauh dari apa yang kamu bayangkan. Hadiah yang lebih indah dari apa yang kamu inginkan.
 
Seorang wanita terduduk di bangku restoran yang menghadap ke arah pantai. Ia mengelus perutnya yang mulai membuncit, kira-kira 5 bulan usia kandungannya. Ia menerawang jauh ke depan. Menatap ombak yang silih berganti bertemu dengan bibir pantai. Melihat sekumpulan orang-orang yang tampak bahagia dengan beberapa permainan, volley ball, lempar pasir, membangun istana dari pasir dan lainnya. Ia tersenyum mensyukuri semua kesakitan dan kebahagian yang telah Tuhan beri padanya. Karena, jika ia tak merasakan sakit terlebih dahulu ia tak akan merasakan kebahagian seperti sekarang.
 
“Sayang, jangan melamun terus. Lihatlah, bahkan sedari tadi kamu tak menyentuh makananmu.” Ujar seorang pria yang baru tiba dan langsung menuju tempatnya berada.
“Suruh siapa rapatnya lama banget. Aku tuh nungguin kamu dari tadi tau!” Wanita itu mencebikan bibirnya, ia kesal jika harus menunggu. Yah, walaupun ia baru menunggu 20 menit berada di restoran tersebut. Sebenarnya ia tak mempermasalahkan itu, tetapi jika dengan suaminya ia selalu tidak bisa tidak bersikap manja dengan prianya itu. “Iya deh, maaf sayang. Tadi itu kliennya ada urusan dulu, jadi aku terpaksa nunggu beberapa menit dari jadwal pertemuan. Lain  kali aku janji gak bakal telat lagi deh, Dryani sayang. Ya, Cintaku.” Pria itu mengulas senyum yang tampak menawan bagi Drya dan tak lupa kedipan mata yang selalu disukai Drya. Ya, wanita itu Drya. Sekarang ia telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Jalan yang penuh duri dan terjal yang dulu di lalui olehnya, sekarang membuahkan hasil yang sangat manis.
 
Siapa yang tahu, Drya yang tomboy, suka balapan liar dengan motor gedenya, suka membolos, suka tawuran dan suka berkelahi. Tetapi prestasinya tidak diragukan oleh siapapun, bahkan ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan bangku kuliahnya di luar negeri. Sayangnya, ia menyerahkan beasiswa itu kepada orang lain. Karena, menurutnya ada yang lebih membutuhkan beasiswa itu daripada dirinya. Orang yang dulu selalu mencari masalah dengannya, maupun di sekolah atau di kampusnya, Rivaldo Bagaskara Wicaksana. Sekarang merupakan pria yang ia cintai, ayah dari anak yang dikandungnya, juga suami yang sangat disegani olehnya. Orang yang dulu sempat mengejar-ngejar Drya dan Andre, karena telah membuat motor balapnya tercemplung ke dasar sungai, sebenarnya Drya sengaja melakukan hal itu karena sebelumnya Rivaldo melucuti keempat ban mobil Drya, belum lagi mobilnya penuh dengan lumpur yang menempel di badan mobil. Dengan senang hati Drya melakukan sweet revenge kepada Rivaldo. Lantas, ketika Drya dan Andre di arena balapan, ia tak sengaja melihat Rivaldo dan kawan-kawannya sedang berkumpul malam itu, dan melintaslah ide jahat itu dengan bantuan Andre tentu saja, mereka mendorong motor Rivaldo yang tak jauh dari tempat Rivaldo cs berkumpul. Entah dewi Fortuna sedang melewat di arena balap itu atau memang dewi sedang ingin berbuat baik, tak jauh dari tempat perkara ada sebuah jembatan dan sungai yang mengalir dibawahnya, Drya melihat selokan yang mengarah ke bawah jembatan disana terdapat celah kosong diantara tiang jembatan dan selokan, akhirnya Drya dan Andre mendorong motor itu hingga tercemplung ke dasar sungai. Namun, sialnya mungkin dewi Fortuna sedang ada tugas panggilan sehingga keberuntungan tidak lagi memihak Drya juga Andre, salah seorang cs Rivaldo melihat perlakuan mereka, dengan sangat geram Rivaldo pun meminta bantuan cs nya untuk menangkap dua curut yang telah lancangnya melukai si Baby milik Rivaldo. Drya dan Andre yang panik lantas berlari tanpa memikirkan apapun menyebabkan mereka harus meninggalkan motor mereka di tempat balapan dan tanpa membawa uang sepeser pun. Yah, konyol memang. Takdir yang mempertemukan mereka kembali dengan segudang rintangan yang harus dilalui oleh mereka.
Benarkan, Tuhan takkan pernah tinggal diam untuk umatnya yang mengalami kesulitan. Dia akan memberikan ujian dengan hasil yang setimpal pula. Karena, Dia MahaSegalanya.



THE END