One-Shot
Suara derap langkah kaki yang memburu menghuni kesunyian di malam hari.
Melewati jalanan yang sepi dan gelap. Mereka terhenti di bawah lampu jalan yang
menyala. “Hufft..ehhufft..ehHuuftt” Suara tarikan napas yang bersahutan memekakan
telinga. Mereguk oksigen seakan takut kehabisan pasokan udara. “Gue pikir,
huuft... Mereka... Haah.. Udah pergi.” Ucap salah seorang yang melihat keadaan
sekitar. Ia memastikan menengok ke arah belakang mereka, matanya bergerak
mengamati keadaaan sekitar. “Gue rasa juga begitu.” Ia menyandarkan tubuhnya
pada tiang lampu jalan, tubuhnya melorot akibat kelelahan yang menderanya.
“Ayo, jangan lama-lama di sini. Ntar mereka nemuin kita lagi. Lo gak mau
kan mereka nangkap kita?” Ujar salah seorang yang masih berdiri dan terlihat
gelisah, matanya bergerak kesana-kemari memastikan bahwa tempatnya beristirahat
masih aman. “Iya, ayo. Kita cabut!” Ia berdiri dengan rasa lelah yang belum
hilang. “Eh, kita naik apaan nih? Motor kita kan, kita tinggal di tempat yang
tadi.” Seakan tersadar dari ingatannya. Ya, mereka sedari tadi hanya berlari.
Membawa badan dan isinya yang utuh pun sudah sangat cukup. “Kendaraan umum kan
banyak, pe’a!” Sambil menoyor kepala temannya yang menurutnya agak lemot ini.
“Oh iya, lo bener. Hehee... Yaudah caw. Tapi tunggu!” Bersiap pergi namun gadis
itu menahan sahabatnya. “Apalagi sih, Dry? Buruan sebelum mereka dateng.”
Sahabatnya mulai kesal dengan gadis yang dipanggilnya Dry itu.
“Emang lo bawa duit apa, Ndre? Seinget gue, dompet sama tas lo, lo tinggal
di markas kita.” Gadis itu menatap laki-laki yang sedang mencerna perkataannya.
Suara tepukan di jidat menandakan bahwa ia melupakan sesuatu. “Oh iya, bener.
Terus kita harus gim-” Laki-laki itu seolah tersadar dari kepanikan yang tidak seharusnya ia
lakukan. Laki-laki itu kemudian melirik tajam ke arah gadis yang sedari tadi
sedang memperhatikannya. “Kenapa sekarang gue jadi lemot kayak lo, ya?! Udah,
sekarang kita pergi aja dari sini, soal itu nanti kita pikirin. Kalaupun kita
naik taksi, kita tinggal bayar taksi itu setelah kita sampai di rumah. Dasar
odong lu! Lo boleh aja pinter bela diri, tapi otak lo kosong tau gak!”
Laki-laki itu menyeret sahabatnya dengan langkah lebar sambil menggerutu kepada
gadis yang ia seret itu. Sahabatnya sangat mengesalkan jika sudah lemot dalam
mencerna perkataan seseorang ketika sedang panik ataupun kelelahan. Ya, mungkin
Dry kelelahan, jadi ia memakluminya.
Diam-diam Dryani tersenyum melihat punggung kokoh orang yang menariknya.
Dulu orang ini, Andre, pernah mencuri seluruh pusat perhatiannya. Namun, ia
harus mundur dan menghancurkan perasaan itu sebelum perasaan itu tumbuh mekar di hatinya. Sebab, Andre telah
menemukan kebahagiannya sekarang. Yaitu, sahabatnya sendiri, Tiana. Andre
adalah sahabatnya sedari kecil. Sedangkan, Tiana adalah sahabat sekampus dan
sekelasnya. Dryani tersenyum kecut, itu adalah sebagian kecil masa lalunya.
Hal
tersulit adalah ketika melihatmu mencintai orang lain dan menginginkannya
berada di sisimu.
Gadis itu tak melepaskan senyuman dari wajah cantiknya. Ia menatap foto itu
sekali lagi. Ah, melihat wajah pria ini membuatnya tak bisa bernapas. Ada
sesuatu seperti aliran yang merambat pada organ dalam tubuhnya, dimulai dari
pikiran, mata, bibir hingga tepat ke jantungnya. Entah apa namanya perasaan
macam ini. Rasanya ia melebur dalam suatu euforia yang tak tergambarkan betapa
meriahnya perasaan itu. Pria itu adalah obatnya. Ya, selepas dari perasaannya
pada Andre, Dryani menemukan cinta yang baru. Mungkin, perasaannya yang dulu
sebatas rasa suka semata saja. Karena, Dryani merasakan perasaan yang berbeda
dari sebelumnya. Perasaan ini tumbuh begitu cepat sehingga ia tak sanggup bila
harus kehilangan perasaan ini, terutama kehilangannya. Elfian Zafarino. Sepupu
dari orang yang pernah Dryani sukai atau sahabatnya, Andre. Entahlah, apa
pribahasa dari ‘Dunia itu sempit’ berlaku juga pada kisah hidupnya. Drya tak
tahu. Yang jelas ia mencintai pria itu, Elfian. Mendengar namanya saja sudah
membuat jantung Drya mempercepat detakannya. Oh, Cinta. Akankah cinta membuat
aku dan kamu menjadi ‘kita’?
Ketakutan Drya akan kehilangan orang yang ia cinta, kini kembali hadir.
Pasalnya pria itu akan melangsungkan pertunangannya dengan seorang gadis. Ia
menatap kosong ke arah undangan yang berada dalam genggamannya. Gadis itu,
gadis yang sama ketika dia merebut kasih sayang dari ibu kandungnya. Keluarga
Dryani bukanlah keluarga pada umumnya. Ia hadir di tengah-tengah keluarga yang
dari awal sudah tak terkehendaki. Ibunya dijodohkan dengan ayahnya oleh kedua
keluarga. Ibunya menolak mentah-mentah perjodohan itu, dengan alasan bahwa ia
telah mempunyai calonnya sendiri. Pernikahan itu terjadi dengan keterpaksaan,
ibunya menyanggupi pernikahan itu karena tak mau kehilangan hak waris dari
keluarga besarnya.
Tiga tahun pernikahan orang tuanya yang menghasilkan Drya kecil yang pintar
dan lucu. Selama tiga tahun ibunya jarang berada di rumah. Setahu Drya, sedari
kecil yang mendidik dan mengasuhnya adalah ayahnya. Pernah, suatu ketika Drya
sedang bermain dan melihat ibunya pulang ke rumah, Drya berlari ke arah ibunya
dan memeluk kaki ibunya. Tetapi, respons Drya ditolak mentah-mentah oleh
ibunya. Ia mendorong Drya hingga terjatuh dan memarahi Drya karena risih akan
perlakuan Drya. Drya pantang untuk menangis walaupun air mata telah berada di ujung
matanya, Drya bergegas menyusutnya. Karena kata ayahnya, anak yang manis dan
pintar tidak pernah menangis dan jika menangis ia akan membuat ayahnya
bersedih, Drya tak mau melihat ayahnya bersedih karenanya.
Dengan kesabaran, kehangatan, ketekunan dan rasa cinta kepada anaknya, ayah
Drya sukses merawat Drya dari kecil hingga saat ini. Namun, kembali Drya harus
menelan kenyataan itu bulat-bulat. Bahwa 2 tahun yang lalu, ayahnya di vonis
menderita kanker otak stadium akhir yang menyebabkannya harus dirawat. Drya
kecewa, kesal, marah, sedih mengetahui ayahnya menyembunyikan penyakit yang
separah ini darinya. Tak lama setelah di vonis, ayah Drya meninggalkannya untuk
selama-lamanya. Tak ada lagi pelukan hangat dari seorang ayah sekaligus ibu
bagi Drya. Tak ada acara bermanja-manja selepas beraktivitas dengan ayah
tercinta. Semua itu sudah menjadi kenangan. Sebagian hatinya telah dibawa pergi
oleh ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, Drya tinggal sendiri di rumahnya, karena
ia tak mau meninggalkan rumahnya yang penuh kenangan bersama ayahnya. Sesekali
kakek dan neneknya berkunjung untuk menjenguknya. Kabar ayahnya meninggal
diterima dengan sangat baik oleh ibu Drya, buktinya ia menikah lagi dengan
kekasihnya dan telah dikarunia seorang putri yang cantik.
Ibunya sangat menyayangi putri kecilnya. Ya, adiknya hanya selisih 3 tahun
dengannya. Dan gadis kecil yang manis itu yang sebentar lagi akan bertunangan dengan
pria yang dicintainya, Elfian Zafarino. Sakit memang, bahkan sangat. Ketika
orang yang kau cintai harus pergi selamanya dan pergi bersama orang lain. Tapi,
ia kembali teringat kata-kata ayahnya ‘Sekeras
apapun rintangan yang akan kamu lalui, jangan pernah mundur. Berjuang terus,
walaupun kamu harus mengorbankan sesuatu yang berharga. Karena, Tuhan tak akan
tinggal diam.’
Benar, ia harus merelakannya. Jika itu yang terbaik untuknya dan juga untuk
dia dan mereka, ibu dan adiknya. Walaupun Drya tak pernah merasakan kasih
sayang dari seorang ibu. Drya tak pantas membenci ibunya. Malah ia tak ingin ibunya bersedih karena anak
tercintanya, adiknya, kehilangan cintanya seperti apa yang pernah Drya rasakan.
Mereka harus bahagia, Drya tak boleh egois, Drya pasti kuat. Kata-kata itu yang
menjadikan mantra untuk Drya melanjutkan hidupnya.
Terkadang hidup memang tak
sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Tetapi, percayalah jika kau
mengikhlaskan, bersabar dan tetap tegar dalam melalui semua rintangan itu.
Tuhan akan memberikanmu hadiah jauh dari apa yang kamu bayangkan. Hadiah yang
lebih indah dari apa yang kamu inginkan.
Seorang wanita terduduk di bangku restoran yang menghadap ke arah pantai.
Ia mengelus perutnya yang mulai membuncit, kira-kira 5 bulan usia kandungannya.
Ia menerawang jauh ke depan. Menatap ombak yang silih berganti bertemu dengan
bibir pantai. Melihat sekumpulan orang-orang yang tampak bahagia dengan
beberapa permainan, volley ball, lempar pasir, membangun istana dari pasir dan
lainnya. Ia tersenyum mensyukuri semua kesakitan dan kebahagian yang telah
Tuhan beri padanya. Karena, jika ia tak merasakan sakit terlebih dahulu ia tak
akan merasakan kebahagian seperti sekarang.
“Sayang, jangan melamun terus. Lihatlah, bahkan sedari tadi kamu tak
menyentuh makananmu.” Ujar seorang pria yang baru tiba dan langsung menuju
tempatnya berada.
“Suruh siapa rapatnya lama banget. Aku tuh nungguin kamu dari tadi tau!”
Wanita itu mencebikan bibirnya, ia kesal jika harus menunggu. Yah, walaupun ia
baru menunggu 20 menit berada di restoran tersebut. Sebenarnya ia tak
mempermasalahkan itu, tetapi jika dengan suaminya ia selalu tidak bisa tidak
bersikap manja dengan prianya itu. “Iya deh, maaf sayang. Tadi itu kliennya ada
urusan dulu, jadi aku terpaksa nunggu beberapa menit dari jadwal pertemuan.
Lain kali aku janji gak bakal telat lagi
deh, Dryani sayang. Ya, Cintaku.” Pria itu mengulas senyum yang tampak menawan
bagi Drya dan tak lupa kedipan mata yang selalu disukai Drya. Ya, wanita itu
Drya. Sekarang ia telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Jalan yang penuh duri
dan terjal yang dulu di lalui olehnya, sekarang membuahkan hasil yang sangat
manis.
Siapa yang tahu, Drya yang tomboy, suka balapan liar dengan motor gedenya,
suka membolos, suka tawuran dan suka berkelahi. Tetapi prestasinya tidak
diragukan oleh siapapun, bahkan ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan
bangku kuliahnya di luar negeri. Sayangnya, ia menyerahkan beasiswa itu kepada
orang lain. Karena, menurutnya ada yang lebih membutuhkan beasiswa itu daripada
dirinya. Orang yang dulu selalu mencari masalah dengannya, maupun di sekolah
atau di kampusnya, Rivaldo Bagaskara Wicaksana. Sekarang merupakan pria yang ia
cintai, ayah dari anak yang dikandungnya, juga suami yang sangat disegani olehnya.
Orang yang dulu sempat mengejar-ngejar Drya dan Andre, karena telah membuat
motor balapnya tercemplung ke dasar sungai, sebenarnya Drya sengaja
melakukan hal itu karena sebelumnya Rivaldo melucuti keempat ban mobil Drya,
belum lagi mobilnya penuh dengan lumpur yang menempel di badan mobil. Dengan
senang hati Drya melakukan sweet revenge
kepada Rivaldo. Lantas, ketika Drya dan Andre di arena balapan, ia tak sengaja
melihat Rivaldo dan kawan-kawannya sedang berkumpul malam itu, dan melintaslah
ide jahat itu dengan bantuan Andre tentu saja, mereka mendorong motor Rivaldo
yang tak jauh dari tempat Rivaldo cs berkumpul. Entah dewi Fortuna sedang
melewat di arena balap itu atau memang dewi sedang ingin berbuat baik, tak jauh
dari tempat perkara ada sebuah jembatan dan sungai yang mengalir dibawahnya,
Drya melihat selokan yang mengarah ke bawah jembatan disana terdapat celah
kosong diantara tiang jembatan dan selokan, akhirnya Drya dan Andre mendorong
motor itu hingga tercemplung ke dasar sungai. Namun, sialnya mungkin dewi
Fortuna sedang ada tugas panggilan sehingga keberuntungan tidak lagi memihak
Drya juga Andre, salah seorang cs Rivaldo melihat perlakuan mereka, dengan
sangat geram Rivaldo pun meminta bantuan cs nya untuk menangkap dua curut yang
telah lancangnya melukai si Baby milik Rivaldo. Drya dan Andre yang panik
lantas berlari tanpa memikirkan apapun menyebabkan mereka harus
meninggalkan motor mereka di tempat balapan dan tanpa membawa uang sepeser pun.
Yah, konyol memang. Takdir yang mempertemukan mereka kembali dengan segudang
rintangan yang harus dilalui oleh mereka.
Benarkan, Tuhan takkan pernah tinggal diam untuk umatnya yang mengalami
kesulitan. Dia akan memberikan ujian dengan hasil yang setimpal pula. Karena,
Dia MahaSegalanya.
THE END





